Jumat, 09 April 2010

Paradigma Berfikir Ilmiah

Muqaddimah
Mahasuci Allah yang mempersiapkan diri kita dengan perangkat berpikir yang tidak bisa kita jiplak lagi dalam bentuk semisal microchips pada komputer secanggih apapun.. Dengan proses berpikir yang terus menerus, dan menjadikannya bagian integral dalam kehidupan kita, maka akan semakin memperjelas betapa kebesaran Sang Mahaagung tidak sanggup dinafikan. Tidak kurang dari 854 ayat-ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal, menyuruh manusia bertafakkur terhadap Al-Qur’an dan alam semesta serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan. Ini berarti, aktivitas berpikir menjadi sebuah keniscayaan dengan dilengkapinya kita oleh anugerah berupa akal. Semua perenungan terhadap semesta itu mengarah pada apa yang disebut dengan penggalian hikmah dibalik peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Manusia secara mutlak, adalah makhluk yang paling mulia dan utama. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa manusia adalah lebih utama daripada malaikat. Keutamaan manusia terletak pada rasio (akal)-nya. Akal inilah yang akan mengangkat kedudukan manusia dan sekaligus menjadikannya makhluk yang paling utama. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita memiliki pengetahuan tentang akal (‘aql), Proses berfikir (tafkir), dan sekaligus metode berfikir ( thariqah at-tafkir).

Fakta akal (rasio) dan Proses Berfikir.
Banyak kalangan yang berusaha mendefenisikan rasio (akal) atau mengetahui fakta rasio (akal), baik pada masa lalu seperti para filosof Yunani, para pemikir muslim, ilmuwan barat, maupun pada masa sekarang ini. Namun berbagai defenisi yang mengemuka belum mampu mencapai pada pengetahuan yang meyakinkan dan pasti tentang akal.
Menurut Muh. Ismail dalam kitab Al-Fikru Al-Islamy (Bunga rampai pemikiran Islam) bahwa antara pemikiran, akal, kesadaran memiliki pengertian yang sama. Kadang-kadang digunakan kata pemikiran dan yang dimaksud adalah proses berfikir. Dapat digunakan dengan maksud hasil pemikiran, yakni suatu yang telah sampai pada manusia melalui suatu proses berfikir. Pemikiran dengan arti proses berfikir, tidak memiliki organ tubuh tertentu yang dapat ditunjuk, melainkan merupakan suatu proses yang rumit yang melibatkan empat unsur, yaitu :
a. Fakta yang terindera
b. Panca indera manusia
c. Otak manusia
d. Informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta dan dimiliki manusia.
Jika keempat unsur tersebut di atas tidak terkumpul dalam suatu proses berfikir, maka pemikiran, akal dan kesadaran tidak akan pernah terwujud.
Orang-orang terdahulu telah mengalami suatu kekeliruan dalam membahas akal. Mereka mencoba berusaha menentukan tempat keberadaannya, apakah ada di kepala,di hati atau di tempat lainnya. Yang jelas, mereka menduga, bahwa akal itu memiliki organ tertentu yang bekerja secara aktif. Orang-orang modern-pun telah melakukan kekeliruan tatkala menjadikan otak sebagai tempat bersemayamnya akal, sekaligus sebagai pusat kesadaran, atau pemikiran.
Dengan demikian defenisi pemikiran, akal dan kesadaran adalah penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indera ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Proses ini terjadi dalam diri si pemikir yang menghasilkan pemikiran, bukan yang menerima pemikiran. Dalam diri orang yang menerima pemikiran tidak berlangsung proses ini karena pemikiran ini telah ditemukan lalu menghilang. Kemudian, si penemu itu memberikan kepada orang banyak, dan terus berpindah dikalangan manusia, yang kemudian diekspresikan dengan simbol-simbol bahasa ataupun simbol-simbol lainnya, meskipun yang paling menonjol adalah ekspresi dalam bentuk bahasa.


Berfikir Ilmiah
Ilmu pengetahuan telah didefenisikan dengan beberapa cara dan defenisi untuk operasional. Berfikir secara ilmiah adalah upaya untuk menemukan kenyataan dan ide yang belum diketahui sebelumnya. Ilmu merupakan proses kegiatan mencari pengetahuan melalui pengamatan berdasarkan teori dan atau generalisasi. Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya dan selanjutnya hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan dan mengendalikan gejala alam. Adapun pengetahuan adalah keseluruhan hal yang diketahui, yang membentuk persepsi tentang kebenaran atau fakta. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, sebaliknya setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Untuk itu terdapat syarat-syarat yang membedakan ilmu (science) dengan pemgetahuan (knowledge), antara lain :
Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudiro, Adm. Dan Management Umum 1982, Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas.
Menurut Prof.DR.Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial 1985,ilmu juga harus memiliki objek, metode, sistematika dan mesti bersifat universal.
Menurut Prof.Dr.Sondang Siagian, Filsafat Administrasi 1985, Ilmu Pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus yang melalui percobaan sistematis, teruji kebenarannya, prinsip-prinsip, dlil-dalil dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari.
Menurut Prof.Drs.Sutrisno Hadi, Metodologi Research 1, 1980 : Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan teratur.
Dari pendapat-pendapat di atas terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu konkrit sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan secara teratur, teruji, bersifat khas atau khusus, dalam arti mempunyai metodologi, obyek, sistematika dan teori sendiri.
Manusia senantiasa berupaya mencari tahu bagaimana cara-cara menyelesaikan masalah-masalah kehidupannya secara efektif dan efisien, memahami fenomena-fenomena alam dan menjawab tantangan zaman. Sumber-sumber pengetahuan oleh manusia tersebut dikelompokkan atas :
a. Pengalaman
b. Otoritas
c. Cara berfikir deduktif
d. Cara berfikir induktif
e. Berfikir ilmiah (pendekatan ilmiah)

Ad. a. Pengalaman adalah sumber pengetahuan yang telah banyak digunakan orang. Melalui pengalaman seseorang bisa menjadi tahu tentang seluk beluk sesuatu. Sejarah misalnya menunjukkan sejak jaman nenek moyang cara memasak dipelajari tanpa disadari (contoh daging yang dimasak). Selanjutnya akan berkembang pada pemahaman informasi dari pengalaman, ditambahkan dengan informasi, serta adanya kesempatan dan sistem trial and error (contoh mendung pertanda hujan)
Ad. b. Otoritas atau wewenang sering dijadikan pegangan orang dalam hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui pengalaman pribadi. Orang mencari jawaban atas suatu permasalahan yang sulit melalui seseorang yang memiliki wewenang atai otoritas. Sikap tunduk kepada orang bijak yang dipercayai, sebagian besar berpengaruh selama periode pertengahan, di saat guru dan para nenek moyang waktu itu seperti Plato, Aristoteles dan pemimpin agama lebih diterima dari kepercayaan yang dilakukan berdasarkan berdasarkan observasi dan analisa kenyataan.
Ad. c. Cara berfikir deduktif diperkenalkan oleh Aristoteles, yang dirumuskan sebagai suatu proses berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu. Cara berfikir ini merupakan suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui guna mencapai kesimpulan. Hal ini dilakukan melalui suatu rangkaian pernyataan yang disebut silogisme yang terdiri atas :

a. Dasar pemikiran utama (premis mayor)
b. Dasar pemikiran kedua (premia minor)
c. Kesimpulan.
Contoh :
a. Semua manusia adalah makhluk hidup (Premis mayor)
b. Socrates adalah seoramng manusia (premis minor), karena itu
c. Soctares adalah makhluk hidup (konklusi)
Alasan secara deduksi, walaupun bermanfaat namun terkadang menimbulkan kesesatan. Pendekatan silogisme terbatas hanya jika dasar pemikiran benar dan pantas berhubungan dapat diketahui. Walaupun demikian, berfikir deduktif berguna dalam proses penelitian yaitu dapat memberikan sarana penghubung antara teori dan pengamatan. Peneliti dapat menarik kesimpulan berdasarkan teori yang sudah ada tentang gejala yang sebenarnya diamati.
Ad. d. Cara berfikir induktif diperkenalkan Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa kita tidak boleh begitu saja menerima premis orang yang mempunyai otoritas sebagai kebenaran. Ia meyakini bahwa seorang peneliti dapat membuat simpulan umum berdasarkan fakta yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung.
Contoh :
Induktif : Setiap burung yang pernah diamati mempunyai sayap
Oleh karena itu, setiap burung mempunyai sayap.
Deduktif : Setiap bangsa burung mempunyai sayap
Merpati adalah bangsa burung
Oleh karena itu, setiap merpati mempunyai sayap.
Cara berfikir deduktif di atas menunjukkan bahwa dasar pkiran utama harus diketahui terlebuh dahulu sebelum menarik kesimpulan. Sedangkan dalam berfikir induktif, kesimpulan diperoleh melalui pengamatan contoh-contoh selanjutnya dibuatlah generalisasi.

Ad. e. Berfikir Ilmiah atau pendekatan ilmiah diperkenlakan oleh Charles Darwin dengan menggabungkan aspek-aspek penting dari metode induktif dan deduktif. Dari teori Malthus tentang Populasi oleh Darwin selanjutnya mempelajari untuk menjelaskan tentang evolusi setelah menggabungkan data dengan baik. Darwin berdasarkan pada teori Malthus menarik kesimpulan bahwa datanya mungkin benar. Dia memformulasikan suatu hipotesis dari kenyataan yang telah dikatehui, kemudian menyelediki dengan lebih jauh untuk mengetahui apakah hal itu membantu kehidupan atau membuktikan hal yang salah dengan adanya tambahan yang jelas. Metode Darwin merupakan contoh berfikir secara ilmiah yang modern.
Pendekatan ilmiah ini merupakan suatu proses penelitian yang sistematik yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung (interdependen). Pendekatan ini telah terbukti sebagai metode yang berhasil dalam memahami dunia kita yang cukup rumit ini dan dalam mengembangkan temuan-temuan baru untuk memenuhi keinginan manusia.
Dalam pendekatan ilmiah dikenal lima langkah sebagai berikut:
1. Perumusan Masalah

Penyidikan ilmiah dimulai dari suatu masalah atau persoalan yang memerlukan pemecahan. Persoalan tersebut harus mempunyai suatu ciri penting dan dirumusan sedemikian rupa sehingga dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan. Persoalan yang menyangkut pilihan atau nilai-nilai tidak dapat dijawab atas dasar informasi faktual belaka. Kata-kata yang mengandung makna pertimbangan nilai hendaknya tidak dimasukkan kedalam perumusan masalah. Contoh pertanyaan “ apakah sistem sekolah unggulan baik bagi siswa ?,tidak dapat diselidiki secara ilmiah tanpa memahami apa arti baik bagi siswa atau bagaimana cara mengamatu at atau mengukur “baik” itu . Pertangyaaan seperti , apakah siswa yang dididik denga sistem sekolah inggulan akan memperoleh skor yang lebih tinggi pada tes belajar pada siswa yang diajar dengan sistem tradisional ? inilah yang dapat diseliodiki secara ilmiah


2. Pengajuan Hipotesis
Setelah perumusan masalah, hipotesis dirumuskan sebagai penjelasan sementara tentang masalah itu. Pada tahap ini peneliti diharuskan membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan masalah itu dan berfikir lebih mendalam lagi. Dengan menggunakan contoh diaatas.
Peneliti mungkin meru,uskan hipotesisnya “ siswa yang m,engajar dengan sistam sekolah unggulan memperoleh skor tes hasil belajar lebuh tunggi darupada siswa yang belajar disekolah dengan sisrem tradisional.

3. Cara berfikir deduktif
Melalui proses berfikir deduktif implikasi hipotesis yang diajukan dapat ditetapkan yaitu apa yang akan dapat diamati jika hipotesis tersebut benar. Jika benar bahwa dengan sistim sekolah unggulan, siswa akan memperoleh skor lebih tinggi dari pada siswa sepadan yang belajar di sekolah dengan sistem tradisional.

4. Pengumpulan data dan analisis data
Hipotesis yang diajukan diuji dengan pengumpulan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tes dan eksperimentasi. Hasil-hasil pengamatan, tes dan eksperimentasi ini, dianalisis dengan menggunakan metode tertentu baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Metode analisis data ini biasanya dikenal dengan perhitungan-perhitungan statistik.

5. Penerimaan dan penolakan hipotesis.
Hasil analisis data yang telah dikumpulkan, ditetapkan apakah penyelidikan memberikan bukti-bukti yang mendukung hipotesis atau tidak. Dalam pendekatan ilmiah peneliti tidak dituntu membuktikan hipotesis, tetapi menyimpulkan bahwa bikti-bukti yang diperoleh mendukung atau tidak hipotesis itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar